Petrus Kanisius (Pit)
Petrus Kanisius (Pit) karyawan swasta

Belajar menulis

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Hutan Indonesia, antara "Lahan Perang, Eksploitasi, Eksplorasi dan Penelitian"

13 Juni 2017   15:44 Diperbarui: 13 Juni 2017   15:53 42 4 0
Hutan Indonesia, antara "Lahan Perang, Eksploitasi, Eksplorasi dan Penelitian"
Kobaran api yang melahap luasan hutan di Ketapang, beberapa tahun lalu. Foto dok. Yayasan Palung

Tidak bisa disangkal hutan-hutan yang ada di wilayah Indonesia tidak terkecuali hutan Kalimantan selalu menjadi primadona. Menjadi primadona tidak lain karena selalu dinanti (semakin naik daun). Namunkeberadaan hutan Indonesia lebih khusus di Kalimantan saat ini jika boleh dikata antara “Lahan Perang, Eksploitasi dan Eksplorasi serta Penelitian“.

Tidak hanya tentang keindahannya, tetapi juga tentang manfaat yang dihasilkan dari hutan sehingga dengan demikian membuat orang-orang berlomba dan menjadikan hutan sebagai primadona saat ini.

Benar saja luasan tutupan Indonesia mencapai 162 juta hektar. Lahan hutan terluas itu ada di Papua (32,36 juta hektar luasnya). Kemudian hutan Kalimantan (28,23 juta hektar), Sumatera (14,65 juta hektar), Sulawesi (8,87 juta hektar), Maluku dan Maluku Utara (4,02 juta hektar), Jawa (3,09 juta hektar), serta Bali dan Nusa Tenggara (2,7 juta hektar), sumber data Kompas.

Dari luasan tutupan hutan Kalimantan yang mencapai 28, 23 juta Ha, terluas kedua setelah hutan Papua. Sebuah kekhawatiran saat ini, hutan menjadi primadona yang entah kapan berakhir karena selalu dinanti. Dinantinya luasan tutupan hutan di Kalimantan boleh jadi akan berimbas pada sendi-sendi kehidupan masyarakat pula di sekitar hutan.

Hutan dijadikan sebagai lahan perang umat manusia, hal ini tercermin dengan adanya eksploitasi, eksplorasi dan penelitian terhadap hutan.

Hutan tidak jarang dijadikan sebagai politik pemanfaatan yang berlebihan terhadap suatu dan tidak jarang tanpa melihat kepatutan dan hak-hak masyarakat akar rumput. Eksplorasi terhadap sumber kekayaan alam terlebih hutan yang dilakukan secara masif menjadi ketakutan tak berujung hingga nanti.

Mungkin saja, hutan Kalimantan akan tinggal cerita dan kenangan 10-20 tahun kedepan. Hal inilah yang menjadi sebuah tanya tentang masa depan hutan Indonesia. Data mencatat, hutan primer Indonesia paling cepat hilang dari masa ke masa pun bersinggungan langsung dengan masa depan kehidupan masyarakat lokal. Diperkirakan apabila hutan Kalimantan kehilangan 75% Hilangnya luasan tutupan hutan berdampak pada hilang atau habisnya ragam tumbuhan dan satwa endemik, kekhawatiran akan terkikisnya atau hilangnya adat tradisi masyarakat lokal juga diperkirakan akan terjadi.

Kalimantan-deforestasi sources Radday M.2007 Borneo Maps
Kalimantan-deforestasi sources Radday M.2007 Borneo Maps

Sumber konflik sudah hampir pasti hadir dalam hal ini. Tidak sedikit rentetan contoh kasus yang sering kali abai terhadap hak-hak masyarakat lokal di Nusantara ini. Tidak perlu menyebutkan secara runut kejadian per kejadian yang asal muasalnya karena perebutan batas lahan. Dengan kejadian tersebut pula tidak jarang akan memakan korban baik secara perorangan ataupun juga per wilayah.

Pribahasa setelah terantuk barulah tengadah acap kali hadir dalam setiap masyarakat kita. Setelah terjadinya sesuatu barulah repot-repot untuk mencari solusi tanpa dari awal melihat dampak, sebab dan akibat.

Kebakaran Hutan. Foto dok. Sains Kompas
Kebakaran Hutan. Foto dok. Sains Kompas

Tidak jarang hutan yang dikorbankan atau yang menjadi korban dari eksplorasi dan eksploitasi juga bertentangan dengan ranah hak-hak akar rumput.

Benar saja, hutan sebagai sumber keberlanjutan makhluk hidup juga sudah semestinya menjadi bahan untuk diteliti dengan maksud pula mencari cara bagaimana mempelajari dan menyelamatkan dari sisa-sisa hutan yang tersisa.

Hutan sebagai harta karun yang tak ternilai kini pun menjadi dilema. Dimanfaatkan namun juga diambang kehancuran menjelang terkikis habis. Satu-satunya harapan semoga hutan di Indonesia, lebih khusus di Kalimantan, Sumatera dan Papua masih boleh (di/ter) selamatkan dari sekarang hingga nanti.

Banyak cara untuk menyelamatkan hutan Indonesia dengan ragam kepedulian dari berbagai lembaga konservasi ataupun juga dari pemerintah mencari cara menyelamatkan hutan Indonesia. Tetapi juga terkadang nasib hutan tak jarang dikorbankan demi kepentingan bisnis dari para pengusaha dan penguasa yang acap kali lupa dari fungsi hutan yang sesungguhnya.

Hutan juga tak ubah sebagai buah simalakama; dimakan, bapak mati. Tidak dimakan ibu yang mati. Serba salah singkatnya. Disatu sisi hutan perlu dimanfaatkan namun jangan dimusahkan atau dikorbankan. Hutan perlu diselamatkan sebagai keberlanjutan semua makhluk hidup hingga nanti. Bila tidak diselamatkan, hutan akan menjadi kenangan dan kita akan menanggung resiko dari dampak yang ditimbulkan.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung